Contact

Semoga Tulisan - tulisan ini bermanfaat untuk kita semua

Selasa, 11 September 2012

Pemasangan ARRESTER

Dalam realita dilapangan sering kali menemui pemasang Arrester setelah FCO atau Arrester Sebelum FCO, berikut Ulasan yang mudah - mudahan membantu .
1.     Pemasangan Lightning Arrester sebelum FCO

Keuntungannya :
·         Ketika ada gelombang petir yang merambat ke SUTM, maka gelombang petir akan mencari pentanahan terdekat, dengan dipasangkan Arrester diparallel dengan FCO maka arrester akan menchoping puncak gelombang petir.

Minggu, 09 September 2012

Jadwal pertandingan Liverpool 2012 - 2013

Buat kamu yang ngaku fans Liverpool jangan sampai ketinggalan untuk menyimpan jadwal pertandingan Liverpool musim 2012/2013 nanti.


18 Agu 2012 West Bromwich Albion 21:00 WIB Liverpool

25 Agu 2012 Liverpool 21:00 WIB Manchester City
1 Sep 2012 Liverpool 21:00 WIB Arsenal

15 Sep 2012 Sunderland 21:00 WIB Liverpool
22 Sep 2012 Liverpool 21:00 WIB Manchester United
29 Sep 2012 Norwich City 21:00 WIB Liverpool
6 Okt 2012 Liverpool 21:00 WIB Stoke City
20 Okt 2012 Liverpool 21:00 WIB Reading
27 Okt 2012 Everton 21:00 WIB Liverpool
3 Nov 2012 Liverpool 22:00 WIB Newcastle United
10 Nov 2012 Chelsea 22:00 WIB Liverpool
17 Nov 2012 Liverpool 22:00 WIB Wigan Athletic
24 Nov 2012 Swansea City 22:00 WIB Liverpool
28 Nov 2012 Tottenham 02:30 WIB Liverpool
1 Des 2012 Liverpool 22:00 WIB Southampton
8 Des 2012 West Ham United 22:00 WIB Liverpool
15 Des 2012 Liverpool 22:00 WIB Aston Villa
22 Des 2012 Liverpool 22:00 WIB Fulham
26 Des 2012 Stoke City 22:00 WIB Liverpool
29 Des 2012 Queens Park Rangers 22:00 WIB Liverpool
1 Jan 2013 Liverpool 22:00 WIB Sunderland
12 Jan 2013 Manchester United 22:00 WIB Liverpool
19 Jan 2013 Liverpool 22:00 WIB Norwich City
30 Jan 2013 Arsenal 02:45 WIB Liverpool
2 Feb 2013 Manchester City 22:00 WIB Liverpool

9 Feb 2013 Liverpool 22:00 WIB West Bromwich Albion
23 Feb 2013 Liverpool 22:00 WIB Swansea City
2 Mar 2013 Wigan Athletic 22:00 WIB Liverpool
9 Mar 2013 Liverpool 22:00 WIB Tottenham
16 Mar 2013 Southampton 22:00 WIB Liverpool
30 Mar 2013 Aston Villa 22:00 WIB Liverpool
6 Apr 2013 Liverpool 21:00 WIB West Ham United
13 Apr 2013 Reading 21:00 WIB Liverpool
20 Apr 2013 Liverpool 21:00 WIB Chelsea
27 Apr 2013 Newcastle United 21:00 WIB Liverpool
4 Mei 2013 Liverpool 21:00 WIB Everton
12 Mei 2013 Fulham 21:00 WIB Liverpool
19 Mei 2013 Liverpool 21:00 WIB Queens Park Rangers

Sabtu, 08 September 2012

Arrester



 Pada umumnya pusat pembangkit tenaga listrik menyalurkan energinya melalui saluran transmisi udara dimana saluran transmisi tenaga listrik yang terpasang di udara ini sangatlah rentanterhadap gangguan yang disebabkan oleh sambaran petir. Sambaran petir ini akan menghasilkangelombang berjalan (Surja Tegangan) pada saluran transmisi dan pada akhirnya dapat masuk kepusat pembangkit tenaga listrik. Oleh alasan ini, dalam pusat pembangkit tenaga listrik harusdilengkapi dengan lightening arrester (penangkal petir).
Gelombang berjalan (surja tegangan) selain dihasilkan oleh gangguan petir, juga dapatterjadi karena adanya pembukaan dan penutupan pemutus tenaga listrik (Open Closing Circuit Breaker) atau adanya switching pada jaringan tenaga listrik. Pada sistem Tegangan Ekstra Tinggi (TET) yang besarnya di atas 350 kV (500 kV untuk standar tranmisi udara tegangan ekstra tinggi/SUTET di Indonesia), surja tegangan ini lebih banyak disebabkan oleh switching tenaga listrik padajaringan dibandingkan yang disebabkan oleh gangguan petir.
Saluran udara yang keluar dari pusat pembangkit listrik merupakan bagian instalasi pusat pembangkit listrik yang paling rawan sambaran petir dan karenanya harus diberi lightning arrester. Selain itu, lightning arrester harus berada di depan setiap transformator dan harus terletak sedekat mungkin dengan transformator. Hal ini perlu karena pada petir yang merupakan gelombang berjalanmenuju ke transformator

Kamis, 06 September 2012

1. Pendahuluan

Sistem catu-daya yang bekerja dalam mode pensaklaran (switching) mempunyai efisiensi yang jauh lebih tinggi dibanding sistem catu-daya linier. Oleh karenanya, hampir semua catu-daya modern bekerja dalam mode switching atau dikenal sebagai SMPS (Switched Mode Power Supply). Komponen utama dari sistem catu-daya adalah konverter dc-dc yang berfungsi untuk mengkonversikan daya elektrik bentuk dc (searah) ke bentuk dc lainnya.
Secara umum, ada tiga rangkaian (topologi) dasar konverter dc-dc, yaitu buck, boost, dan buck-boost. Rangkaian lain biasanya mempunyai kinerja mirip dengan topologi dasar ini sehingga sering disebut sebagai turunannya. Contoh dari konverter dc-dc yang dianggap sebagai turunan rangkaian buck adalah forward, push-pull, half-bridge, dan full-bridge. Contoh dari turunan rangakain boost adalah konverter yang bekerja sebagai sumber arus. Contoh dari turunan rangkaian buck-boost adalah konverter flyback.
Pada tahun 1980-an, ditemukan dan dipatenkan ratusan rangkaian baru konverter dc-dc. Rangkaian baru ini ditawarkan dengan bermacam kelebihan yang diklaim bisa menggantikan peran rangkaian konvensional. Para insinyur baru sering sekali pusing dan menghabiskan banyak waktu untuk memilih dan mencoba rangkaian baru ini. Akan tetapi setelah banyak menghabiskan waktu dan biaya, sering sekali terbukti bahwa rangkaian baru tersebut sangat susah untuk diproduksi. Sebagai akibatnya, sampai saat ini, hampir semua industri masih menawarkan topologi dasar dalam jajaran produknya. Pengecualian mungkin ditemui pada penerapan yang sangat khusus. Akan tetapi, hampir semua insinyur biasanya mencoba lebih dulu menggunakan rangkaian dasar untuk bermacam keperluan. Kalau diperlukan, kinerja yang khusus dicoba dipenuhi dengan menggunakan beberapa rangkaian dasar yang dihubungkan seri, paralel, atau kaskade.
Kondisi ini tidak berarti bahwa konverter dc-dc tidak mengalami perkembangan selama tiga-puluh tahun terakhir ini. Perkembangan pesat terjadi di bidang integrasi, produksi, saklar semikonduktor, dan teknik untuk mengurangi rugi-rugi penyaklaran. Tulisan ini akan mencoba mengkaji beberapa topologi dasar konverter daya yang banyak dipakai di industri. Dengan memahami kinerja konverter dasar ini, para insinyur yang bekerja di industry konverter daya bisa dengan baik memilih topologi yang sesuai untuk hampir semua keperluan. Pekerjaan selanjutnya tinggal menentukan ukuran tapis dan rangkaian kendalinya.
2. Konverter Buck

Konverter jenis buck merupakan jenis konverter yang banyak digunakan dalam industri catu-daya. Konverter ini akan mengkonversikan tegangan dc masukan menjadi tegangan dc lain yang lebih rendah (konverter penurun tegangan).
1. Pendahuluan

Sistem catu-daya yang bekerja dalam mode pensaklaran (switching) mempunyai efisiensi yang jauh lebih tinggi dibanding sistem catu-daya linier. Oleh karenanya, hampir semua catu-daya modern bekerja dalam mode switching atau dikenal sebagai SMPS (Switched Mode Power Supply). Komponen utama dari sistem catu-daya adalah konverter dc-dc yang berfungsi untuk mengkonversikan daya elektrik bentuk dc (searah) ke bentuk dc lainnya.
Secara umum, ada tiga rangkaian (topologi) dasar konverter dc-dc, yaitu buck, boost, dan buck-boost. Rangkaian lain biasanya mempunyai kinerja mirip dengan topologi dasar ini sehingga sering disebut sebagai turunannya. Contoh dari konverter dc-dc yang dianggap sebagai turunan rangkaian buck adalah forward, push-pull, half-bridge, dan full-bridge. Contoh dari turunan rangakain boost adalah konverter yang bekerja sebagai sumber arus. Contoh dari turunan rangkaian buck-boost adalah konverter flyback.
Pada tahun 1980-an, ditemukan dan dipatenkan ratusan rangkaian baru konverter dc-dc. Rangkaian baru ini ditawarkan dengan bermacam kelebihan yang diklaim bisa menggantikan peran rangkaian konvensional. Para insinyur baru sering sekali pusing dan menghabiskan banyak waktu untuk memilih dan mencoba rangkaian baru ini. Akan tetapi setelah banyak menghabiskan waktu dan biaya, sering sekali terbukti bahwa rangkaian baru tersebut sangat susah untuk diproduksi. Sebagai akibatnya, sampai saat ini, hampir semua industri masih menawarkan topologi dasar dalam jajaran produknya. Pengecualian mungkin ditemui pada penerapan yang sangat khusus. Akan tetapi, hampir semua insinyur biasanya mencoba lebih dulu menggunakan rangkaian dasar untuk bermacam keperluan. Kalau diperlukan, kinerja yang khusus dicoba dipenuhi dengan menggunakan beberapa rangkaian dasar yang dihubungkan seri, paralel, atau kaskade.
Kondisi ini tidak berarti bahwa konverter dc-dc tidak mengalami perkembangan selama tiga-puluh tahun terakhir ini. Perkembangan pesat terjadi di bidang integrasi, produksi, saklar semikonduktor, dan teknik untuk mengurangi rugi-rugi penyaklaran. Tulisan ini akan mencoba mengkaji beberapa topologi dasar konverter daya yang banyak dipakai di industri. Dengan memahami kinerja konverter dasar ini, para insinyur yang bekerja di industry konverter daya bisa dengan baik memilih topologi yang sesuai untuk hampir semua keperluan. Pekerjaan selanjutnya tinggal menentukan ukuran tapis dan rangkaian kendalinya.
2. Konverter Buck

Konverter jenis buck merupakan jenis konverter yang banyak digunakan dalam industri catu-daya. Konverter ini akan mengkonversikan tegangan dc masukan menjadi tegangan dc lain yang lebih rendah (konverter penurun tegangan).
Rangkaian ini terdiri atas satu saklar aktif (MOSFET)