Contact

Semoga Tulisan - tulisan ini bermanfaat untuk kita semua
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Masjid Unik di seluruh Pelosok Dunia


Islam menyebar ke seluruh penjuru muka bumi, agama tauhid ini begitu cepat diterima oleh banyak orang. Selain tanpa paksaan, 
tampaknya Islam begitu luruh dengan budaya setempat, sehingga orang mau menerimanya dengan tangan terbuka.

Masjid, sebagai pusat ibadah agama Islam tidak kaku dan harus bergaya seperti wilayah asalnya. Melainkan terjadi asimilasi dengan gaya arsitektur setempat sehingga selain menjadi unik, juga menggambarkan bahwa Tuhan hadir di mana saja.

Di dunia ini ada banyak masjid unik yang mungkin belum kita ketahui, silahkan lihat dibawah ini masjid - masjid di seluruh belahan dunia :

 Masjid Argentina


 Masjid Badshahi Pakistan



 Masjid AL - FATEH BAHRAIN



Mali Masjid Missiri Frejus Mali


  Masjid Europa Point Giblatar


Masjid Larabanga Mali


Masjid Agung Djenne AFRIKA BARAT

Masjid Sangkore, Timbuktu


Masjid Faisal, Pakistan


Masjid Omayyed, Syria


Masjid Merah, Srilanka


Kalo dibawah ini masjid unik di tanah air kita : 

 Masjid Bawah Tanah , Yogyakarta, Indonesia


 Masjid Menara, Kudus, Indonesia 








Kamis, 06 September 2012

Saat Iblis Bertamu Kepada Rasulullah SAW


Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah  SAW

(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman  seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari  luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan  membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang  memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih  tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah  bersamanya.” 
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai  Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah  kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih  baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah  untuk ini,  pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan  baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka,  ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut  seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya  seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu  para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab:  “Salam hanya  milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa  keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas  kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang  memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku  dan berkata:
“Allah  SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan  diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah  dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau  berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup  angin.”
“Oleh  karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku  berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah  SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur,  siapakah manusia yang paling kau benci?”Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk  Allah yang paling aku  benci.”“Siapa  selanjutnya?”“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi  kepada Allah SWT.”“lalu siapa  lagi?”“Orang Aliim dan wara’  (Loyal)”“Lalu siapa  lagi?”“Orang  yang selalu  bersuci.”“Siapa  lagi?”“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah  mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”“Apa tanda  kesabarannya?”“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya  kepada orang lain selama 3  hari, Allah akan memberi pahala orang -orang  yang sabar.”” Selanjutnya  apa?”

Selasa, 26 April 2011

SABAR DAN IKHLAS

Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita di uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.
Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit,  kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.  Perhatikan firman Allah SWT berikut ini “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)
Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah. Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?
Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah.  Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.
Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.
Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda  Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).
Rasulullah SAW  bersabda :  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita harus rela menerima segala  ketentuan  Allah  dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :  “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW  sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”  Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT  “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya,  insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :
  1. Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286).   Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita,

Senin, 18 April 2011

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW

(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”

Rabu, 13 April 2011

Filosofi Hidup: Pertanyaan Imam Al-Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al-Ghozali bertanya....
Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid- muridnya menjawab "Orang tua, guru, kawan ,dan sahabatnya". Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab, sesuai dengan janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185)

Kedua."Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang". Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Walau dengan cara apa sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "Gunung, bumi dan matahari". semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "hawa-nafsu" (Al-A'raaf :179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Keempat. "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab "besi dan gajah" Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah" (Al-Ahzab:72) Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima. "Apa yang paling ringan di dunia ini?" Ada yang menjawab "Kapas, angin, debu dan daun-daunan". Semua itu benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermasyarakat, kita meninggalkan sholat.

Keenam. "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Sabtu, 09 April 2011

Macam -Macam Puasa

Puasa adalah ibadah yang berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah tersebut mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan adalah jenis puasa yang diwajibkan, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183-185. Jenis puasa lain yang diwajibkan adalah puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa nazar. Selain itu, ada juga puasa yang diharamkan, puasa makruh, dan puasa sunah.

Puasa haram. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; 
(1) Puasa sunah yang dilakukan seorang istri tanpa izin suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Seorang istri yang hendak melakukan puasa sunah harus terlebih dulu diketahui dan mendapat izin dari suaminya. 
(2) Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 
(3) Puasa pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. 
(4) Puasa yang dilakukan dalam keadaan haid atau nifas.
(5) Menurut mazhab Syafi’i, puasa yang dilakukan pada pertengahan akhir bulan Syakban. 
(6) Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan terjadi mudarat bagi dirinya apabila ia berpuasa.

Puasa sunah. 
Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; 
(1) Puasa Daud, yaitu puasa yang dilakukan selang satu hari (sehari berpuasa sehari tidak, begitu seterusnya). Puasa ini, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, lebih utama dari puasa-puasa sunah lainnya. 
(2) Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan Hijriyah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. 
(3) Puasa pada hari Senin dan Kamis. 
(4) Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal, baik secara berturut-turut atau tidak.
Barangsiapa yang berpuasa belama enam hari sesudah puasa Ramadhan, ia seakan-akan telah berpuasa wajib sepanjang tahun. (HR Muslim, dari Abu Ayyub RA). 
(5) Puasa hari Artafah, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah, Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun, setahun yang lampau dan setahun mendatang. Bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, puasa pada hari itu tidak disunahkan, bahkan sebaliknya, disunahkan untuk tidak berpuasa. 
(6) Puasa pada hari ke delapan di bulan Dzulhijah (sebelum hari Arafah). Puasa ini disunahkan tidak saja bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji tetapi juga orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. (7) Puasa Tasuu’aa, atau Asura, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharam. 
(8) Puasa pada al-asyur al-hurum, yaitu puasa yang dilakukan pada bulan-bulan Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Keempat bulan ini merupakan bulan yang paling afdhal untul melaksanakan puasa sesudah bulan Ramadhan. 
(9) Puasa di bulan Syakban.

Puasa makruh. 
Ada tiga macam, yaitu: 
(1) Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali telah berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (2) Puasa wisaal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya. 
(3) Puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus. 

Jumat, 19 November 2010

Amalan yang Tidak Putus Sesudah Wafat

Renungan kali ini tentang 3 amalan yang tidak putus pahalanya bagi orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya segala amalan kita di dunia semua akan dinilai oleh Allah, dari beberapa banyak amalan tersebut sebagian besar akan terputus apa bila kita sudah di panggil oleh Allah atau bahasa komputernya di shout down.

3 amalan yang tetap akan mengalir pahalanya bagi orang yang sudah meninggal adalah



Amalan Anak Yang Saleh
Tentunya pahala amalan yang baik dari anak yang saleh akan terus mengalir bagi kedua orang tuanya. Maka hendaknya kita mendidik putra-putri kita yang baik, bukan saja sebagai tanggung jawab kita nanti di akherat tapi juga bagi anak itu sendiri. Masa bodoh orang bilang "punya anak itu jangan dikerasi", "sekarang bukan jamannya anak dikerasi" tapi klo itu baik untuk dia nanti dalam hal akhlak, iman dan agama, kenapa tidak. Toh mereka yang bilang gitu nanti tidak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di akhirat, tetapi kita sebagai orang tua.

Bahkan ada kisah seorang tua yang amalan sholat dan ibadah lainnya baik tidak jadi masuk surga hanya karena anaknya tidak bisa sholat dan ibadahnya jelek.. otomatis dia akan mengajak orang tuanya juga ikut ke neraka.

Amal Jariyah
Yang dimaksud disini adalah saat kita beramal, baik itu tenaga, harta dan pikiran untuk tujuan hal yang di ridhoi oleh Allah misalnya, kita beramal infaq untuk perbaikan masjid. Maka amal pahala kta akan tidak terputus karena masjid tersebut digunakan untuk kegiatan yang di ridhoi oleh Allah.

Terakhir Ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang kita miliki saat kita berikan/ajarkan kepada orang lain untuk keperluan yang baik dan di ridhoi Allah juga akan mendatangkan pahala yang tidak akan putus sampai kita meninggal. Maka hendaknya jangan kita pelit untuk membagi ilmu, asalkan untuk tujuan yang baik.